Dilema Aturan “New Normal LIfe”

Menerapkan aturan New Normal sangat kuat dianjurkan oleh Pemerintah dan jajajarannya. New Normal dirancang sebagai skenario untuk mempercepat penanganan pandemi Covid-19 dalam berbagai aspek, khususnya aspek kesehatan dan aspek sosial-ekonomi. Tetap dapat beraktifitas seperti sedia kala bukan berarti masyarakat dapat dengan bebas tanpa batas menjalankan kegiatannya. Ada berbagai aturan atau protokol kesehatan yang tetap harus dipatuhi. Penerapan New Normal pun juga masih mempertimbangkan studi epistimologis dan kesiapan regional dan terdapat di level apa scoring pandemi di masing-masing daerah, apakah tingkat keparahan ada di level krisis, parah, substansial, sedang atau rendah. Serta perlu banyak aspek yang harus diperhatikan skenarionya khususnya untuk bidang pendidikan, usaha makan, akomodasi, kegiatan ibadah, dan transportasi umum.

Dikutip dari laman Kementerian Kesehatan RI bahwa ada banyak hal yang perlu diperhatikan oleh masyarakat untuk dapat mejalankan aturan New Normal, aturan tersebut sudah dirangkum oleh tim redaksi yang diilustrasikan pada infografis di bawah ini:

Dilema juga dirasakan oleh para pelajar dan mahasiswa yang harus menjalankan proses pembelajaran Daring (Dalam Jaringan). Rasa jenuh dan ribet nya sistem pembelajaran serta keadaan genting yang menyebabkan mahasiswa tidak memiliki banyak pilihan. Terlebih data di lapangan menunjukkan peningkatan tingkat positif terpapar juga membuat mahasiswa takut dan memikirkan keselamatan sendiri.

Angin segar mulai dirasakan karena adanya penerapan New Normal yang selama ini tidak nyaman dengan perkuliahan online dapat Kembali merasakan kehidupan kampus seprti biasa walau harus mematuhi protokol Kesehatan yang sudah dianjurkan karena kondisi yang belum aman. Yang sudah dapat diamati di lapangan bahwa kurannya pemahaman terhadap penerapan New Normal. Kebimbangan yang dihadapi mahasiswa juga dating dari kurangnya kajian dan riset tentang impact dari New Normal jika diterapkan.

Butuh Solusi yang Memudahkan

Salah satu yang dapat di kaji adalah setelah sekian lamanya mahasiswa belajar di rumah juga berdampak pada sisi psikologis. Kebiasaan yang pada saat pandemi adalah sebagian kaum muda mengurung diri dalam kamar selama berminggu-minggu dan hal ini akan memperburuk kesehatan mental. Sedangkan mahasiswa yang tidak siap dengan protokol baru akan memperbesar potensi ledakan kasus yang lebih parah. Maka dari itu, diharapkan mahasiswa aktif terhadap penerapan aturan kesehatan yang setidaknya meminimalisisir potensi tertular. Pilihan penerapan perkuliahan juga dikemukakan beberapa pihak yakni setengah offline dan setengah online. Hal ini diharapkan menjadi alternatif penerapan yang win-win solution. Yag jadi perhatian adalah mahasiswa harus selalu waspada terhadap aturan Kesehatan dan tidak bersikap lengah terhadap keselamatan diri sendiri.

Selanjutnya, selain kebijakan yang jelas, terarah, dan tegas, pemerintah tetap harus fokus dan bersungguh-sungguh dalam menangani. sebagai pakar kesehatan perlu setiap waktu mengingatkan dan menghimbau masyarakat agar lebih tertib dan taat aturan. Sebagai pengemban ilmu disarankan juga bagi pakar dan ilmuan untuk terus bekerja dalam menemukan solusi penanganan Covid-19 yang paling efektif demi keberlangsungan hidup yang lebih baik. (knw)